Mahulu Tetapkan Status Siaga Darurat, Debit Sungai Mahakam Terus Menyusut
Mahulu - Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu menetapkan status siaga darurat menyusul kemarau panjang yang menyebabkan debit Sungai Mahakam terus menyusut. Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat dan distribusi kebutuhan pokok, terutama ke wilayah yang masih bergantung pada jalur sungai.
Penetapan status tersebut dibahas dalam rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang digelar di Kantor Bupati Mahakam Ulu, Rabu, 19 Agustus 2026. Rapat dilakukan untuk menyusun langkah penanganan menghadapi kondisi kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung.
Bupati Mahakam Ulu Angela Idang Belawan mengatakan pemerintah daerah menerima laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengenai kondisi cuaca dan prakiraan hujan. Berdasarkan laporan tersebut, kondisi kering diperkirakan masih berlangsung dalam sepekan ke depan.
"Hari ini akan dikeluarkan SK siaga darurat kita. Berdasarkan laporan dari BPBD bahwa kondisi kekeringan yang akan kita alami seminggu ke depan kemungkinan masih sangat kering dan belum ada curah hujan yang akan kita dapati," kata Angela.
Menurut Angela, prakiraan cuaca memang masih membuka kemungkinan turunnya hujan dalam waktu dekat. Namun, pemerintah daerah tidak dapat sepenuhnya mengandalkan prediksi tersebut karena kondisi cuaca dapat berubah.
"Jadi penentunya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa," ujarnya.
Karena itu, pemerintah daerah memilih menyiapkan langkah antisipasi dengan memetakan kebutuhan masyarakat. Pemetaan tersebut dilakukan agar bantuan yang disalurkan selama kondisi kekeringan dapat diberikan sesuai kebutuhan masing-masing kelompok masyarakat.
Angela mengatakan bantuan yang disiapkan tidak hanya berupa sembako. Pemkab Mahulu juga memperhitungkan kebutuhan kelompok rentan, termasuk balita dan lansia.
"Tidak hanya sembako yang ingin kita berikan, tapi kebutuhan untuk balita, lansia dengan vitamin, dengan susu yang dibutuhkan, lalu mungkin nanti kita juga bisa memberikan popok untuk balita," ungkapnya.
Menurut dia, kondisi kekeringan tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air dan distribusi kebutuhan pokok, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Karena itu, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan selama musim kemarau.
Angela mengingatkan risiko kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) ketika kualitas lingkungan dan sumber air tidak terjaga. Masyarakat juga diminta memperhatikan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat debu dan kemungkinan asap dari kebakaran hutan dan lahan.
"Karena di saat kekeringan seperti ini, ada bakteri E. coli yang memang nanti akan mempengaruhi kesehatan pencernaan kita jika di daerah kita kurang bersih. Kalau perlu saat keluar rumah harus masker untuk mencegah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut)," serunya.
Kondisi Sungai Mahakam yang terus menyusut menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi Mahulu. Sungai tersebut merupakan jalur penting bagi mobilitas masyarakat sekaligus distribusi berbagai kebutuhan dari wilayah hilir menuju kawasan pedalaman.
Penurunan debit air membuat sejumlah alur sungai mengalami pendangkalan. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pergerakan kapal pengangkut barang dan meningkatkan biaya distribusi logistik.
Dampak tersebut terutama dirasakan masyarakat di wilayah hulu, termasuk Kecamatan Long Apari. Wilayah tersebut hingga kini belum memiliki akses jalan darat yang memadai sehingga transportasi sungai masih menjadi jalur utama untuk mobilitas dan distribusi kebutuhan masyarakat.
Kemarau yang berlangsung sekitar satu bulan semakin memperbesar tekanan terhadap jalur distribusi tersebut. Ketika kondisi sungai semakin dangkal, kapal dengan ukuran besar menghadapi keterbatasan untuk melintas di sejumlah titik.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi ketersediaan dan harga kebutuhan pokok apabila distribusi barang mengalami keterlambatan. Pemerintah daerah karena itu perlu memastikan stok pangan dan kebutuhan dasar tetap tersedia selama status siaga darurat berlangsung.
Penetapan status siaga darurat menjadi langkah awal Pemkab Mahulu untuk memperkuat koordinasi lintas OPD dalam menghadapi dampak kekeringan. Pemerintah daerah juga perlu memastikan bantuan kepada masyarakat di wilayah terdampak dapat menjangkau lokasi yang menghadapi kendala akses transportasi.
Selain bantuan logistik, perhatian terhadap kelompok rentan dan kesehatan masyarakat menjadi bagian dari langkah penanganan yang disiapkan pemerintah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak kemarau di Mahulu tidak hanya berkaitan dengan menyusutnya debit sungai, tetapi juga menyentuh aspek distribusi pangan, kesehatan, dan akses masyarakat.
Pemkab Mahulu berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga debit Sungai Mahakam kembali meningkat dan aktivitas transportasi dapat berjalan normal. Namun selama kondisi tersebut belum terjadi, pemerintah daerah akan menggunakan status siaga darurat sebagai dasar untuk memperkuat kesiapsiagaan dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. (ADV)
